Loker : HRGA Staff 📍 Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Ratusan Perwakilan Perusahaan Ikuti Seminar OEE APINDO Bekasi-ATMI, Bahas Strategi Tingkatkan Produktivitas Industri

Hallo Pabrikers, DPK APINDO Kabupaten Bekasi bersama Politeknik Industri ATMI menggelar Seminar Overall Equipment Effectiveness (OEE) Excellence di Aula Politeknik Industri ATMI, Jababeka Education Park, Cikarang, Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan perwakilan perusahaan anggota APINDO Kabupaten Bekasi dari berbagai sektor manufaktur.

Jul 08 2026, 15:54

Cikarang – 

Hallo Pabrikers, DPK APINDO Kabupaten Bekasi bersama Politeknik Industri ATMI menggelar Seminar Overall Equipment Effectiveness (OEE) Excellence di Aula Politeknik Industri ATMI, Jababeka Education Park, Cikarang, Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan perwakilan perusahaan anggota APINDO Kabupaten Bekasi dari berbagai sektor manufaktur.

Mengusung tema "Improve Productivity, Save Cost, Energy and Time", seminar ini bertujuan memberikan wawasan kepada pelaku industri mengenai strategi meningkatkan efektivitas mesin, produktivitas produksi, serta efisiensi operasional melalui penerapan konsep Overall Equipment Effectiveness (OEE), Lean Manufacturing, dan transformasi Industri 4.0.

Sekretaris DPK APINDO Kabupaten Bekasi Hapron Junaidi mengatakan bahwa kerja sama dengan dunia pendidikan merupakan bagian dari komitmen APINDO dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang kompeten bagi perusahaan anggotanya.

"Kebutuhan industri berkembang sangat cepat. Karena itu dunia usaha dan dunia pendidikan harus terus berkolaborasi agar menghasilkan SDM yang siap menghadapi tantangan industri modern," ujarnya.

Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga karakter, disiplin, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi transformasi digital di sektor industri.

"APINDO terus membangun sinergi dengan berbagai perguruan tinggi vokasi maupun SMK, termasuk Politeknik Industri ATMI, agar terjadi keselarasan antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan benar-benar siap bekerja dan mampu memberikan kontribusi sejak hari pertama bergabung di perusahaan," ujarnya.

Ia menambahkan, melalui berbagai seminar, pelatihan, dan program kolaborasi seperti ini, APINDO ingin memberikan nilai tambah bagi perusahaan anggotanya, sekaligus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.

"Kebutuhan industri berubah sangat cepat seiring perkembangan teknologi. Karena itu, dunia pendidikan dan dunia usaha harus terus berjalan bersama. Semakin kuat kolaborasi yang dibangun, semakin besar pula peluang terciptanya SDM unggul yang mampu mendukung pertumbuhan industri nasional," kata Hapron.

Ketua Bidang Pendidikan DPK APINDO Kabupaten Bekasi, Teti Yanuarti, menjelaskan seminar tersebut merupakan salah satu program APINDO untuk meningkatkan kapasitas perusahaan anggota dalam menghadapi transformasi industri.

Menurutnya, pemahaman mengenai OEE diharapkan mampu membantu perusahaan meningkatkan produktivitas mesin, mengurangi lost time, menekan biaya operasional, sekaligus mempercepat transformasi menuju proses produksi yang lebih digital dan efisien.

Sementara itu, Direktur Politeknik Industri ATMI, Romo T. Agus Sriyono,  menegaskan bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri menjadi kunci dalam mencetak sumber daya manusia yang memiliki karakter, integritas, dan kompetensi sesuai kebutuhan industri.

Menurutnya, ATMI sejak awal dibangun sebagai institusi pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan industri. Sistem pembelajarannya mengadopsi budaya kerja perusahaan sehingga lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap bekerja sejak hari pertama. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi, ATMI terus memperkuat kerja sama dengan industri melalui pembaruan fasilitas praktik, peningkatan kompetensi teknologi, hingga program magang terstruktur

Pada sesi materi, Vice Director of Academic Politeknik Industri ATMI, F.O. Sanctos P. Tukan, M.Eng., menjelaskan bahwa tantangan industri saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga kesenjangan kompetensi tenaga kerja. Ia menyebut transformasi Industri 4.0 menuntut pekerja memiliki kemampuan teknis sekaligus digital yang terus berkembang.

Menurutnya, penerapan Lean Manufacturing, OEE, dan Industri 4.0 tidak dapat dipisahkan. Lean Manufacturing berperan menghilangkan pemborosan (waste), OEE digunakan untuk mengukur efektivitas aset dan mesin produksi, sedangkan teknologi Industri 4.0 menghadirkan sistem digital yang mampu memonitor performa produksi secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.

Sanctos juga memaparkan bahwa ATMI terus memperkuat kolaborasi dengan dunia industri melalui program magang terstruktur. Saat ini puluhan perusahaan telah menjadi mitra ATMI, dengan sebagian besar mahasiswa mengerjakan proyek continuous improvement, digitalisasi, dan otomasi selama masa magang. Bahkan, banyak mahasiswa yang langsung mendapatkan tawaran bekerja setelah menyelesaikan program tersebut.

Seminar yang menghadirkan praktisi industri dan akademisi ini berlangsung interaktif. Para peserta memanfaatkan sesi diskusi untuk bertukar pengalaman mengenai implementasi OEE di lingkungan manufaktur sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan daya saing industri di tengah tantangan global (df)

Berita Terkait

No Posts Found