APINDO Kabupaten Bekasi Gelar Seminar QCC: Dorong Perusahaan Manufaktur Terapkan Budaya Perbaikan Berkelanjutan
Hallo Pabrikers, Bidang Pendidikan dan Produktivitas DPK APINDO Kabupaten Bekasi kembali menggelar agenda berkualitas bagi insan industri. Hari ini (21/5), ratusan perwakilan perusahaan manufaktur yang tergabung dalam APINDO Kabupaten Bekasi berkumpul dalam Seminar Quality Control Circle (QCC) bertema “Challenging the Limits for Never Ending Improvement Through QCC”.
Cikarang,-
Hallo Pabrikers, Bidang Pendidikan dan Produktivitas  DPK APINDO Kabupaten Bekasi kembali menggelar agenda berkualitas bagi insan industri. Hari ini (22/5), ratusan perwakilan perusahaan manufaktur yang tergabung dalam APINDO Kabupaten Bekasi berkumpul dalam Seminar Quality Control Circle (QCC) bertema Challenging the Limits for Never Ending Improvement Through QCC. Bertempat di Grande Valore Hotel, Kawasan Industri Jababeka, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus refleksi atas pentingnya budaya perbaikan berkelanjutan di tengah tantangan industri.
Tety Yanuarti, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Produktivitas DPK APINDO Kabupaten Bekasi menyampaikan bahwa APINDO berkomitmen mendukung peningkatan daya saing industri nasional. “Kami ingin Indonesia naik kelas, masuk ke jajaran 10 besar dunia. Seminar ini membuka wawasan, bukan hanya untuk yang belum menerapkan QCC, tapi juga memberi insight baru bagi yang sudah menjalankannya,” ujar Tety. Ia menjelaskan bahwa QCC adalah fokus kendali mutu, yang mendorong penyelesaian masalah di semua level.
“Seratusan peserta seminar ini datang dari berbagai fungsi, mulai dari supervisor hingga manajer lintas bidang. Harapannya, mereka bisa menemukan hal-hal sederhana namun berdampak besar, menjadi lebih inovatif di perusahaan masing-masing,” tambahnya.

Ke depan, APINDO akan mengadakan workshop lanjutan untuk anggota, di mana peserta akan dilatih membuat QCC, menyelesaikan masalah secara tuntas, hingga siap diaplikasikan di tempat kerja.
“Workshop ini gratis untuk anggota APINDO. Nantinya, hasil QCC terbaik akan kami lombakan di tingkat Bekasi dan pemenangnya akan kami kirim ke level nasional. Salah satu inti dari QCC adalah Kaizen—perbaikan berkelanjutan dan inovatif. Kami ingin peserta membawa ide-ide baru untuk peningkatan kualitas di tempat kerja,” jelas Tety.
QCC: Solusi Efisien dalam Meningkatkan Kompetensi SDM Industri
Dalam pemaparannya, Edy Susilo Darmawan, Direktur Akademi Komunitas Toyota Indonesia, menjelaskan urgensi mengembangkan SDM di lingkungan industri secara efisien dan berkelanjutan. “Situasi di lapangan itu kompleks. Problemnya bisa ratusan, di perusahaan Anda mungkin minimal 300-an karyawan.  Ada banyak masalah  yang muncul di satu area . Kalau kita tangani semua itu dengan training saja, coba bayangkan: berapa waktu, berapa uang yang harus dikeluarkan?” jelas Edy.
Inilah alasan mengapa QCC menjadi penting. Menurutnya, QCC bukan hanya alat perbaikan, tapi juga metode pembelajaran langsung berbasis masalah riil di tempat kerja.

“QCC itu melatih orang untuk berpikir sistematis. Kita bentuk kebiasaan, bukan hanya kemampuan. Kalau mindset Kaizen sudah terbentuk, maka budaya perbaikan itu akan berjalan tanpa perlu dorongan eksternal terus-menerus,” ujar Edy.
Dalam salah satu sesi , Edy juga menyoroti kondisi demografi karyawan di Toyota Manufacturing Indonesia  yang saat ini didominasi oleh generasi Y (49%) dan generasi Z (30%). “Generasi masa kini sangat nyaman dengan teknologi, tetapi mereka juga mencari makna dalam pekerjaan, stabilitas, fleksibilitas, dan lingkungan kerja yang beragam. Untuk itu, pendekatan pembinaan tidak bisa hanya struktural. Kita butuh membangun basic thinking dan Kaizen mindset sejak dini,” terang Edy.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa future leaders di perusahaan-perusahaan saat ini adalah Gen Y dan Gen Z. Maka, tantangannya bagi top management adalah membentuk budaya kerja yang memungkinkan generasi ini berkembang dengan tetap menjaga daya saing industri. “Kalau basic thinking-nya sudah kuat, maka Kaizen akan jadi karakter. Dan dari situ kita bisa masuk ke advance manufacturing, bukan cuma bicara teknologi, tapi pola pikir dan budaya,” tegasnya. (df)