Loker : HRGA Staff 📍 Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Marsan Susanto: Cinta Sejati untuk Mereka yang Terlupakan

Hallo Pabrikers, di sebuah sudut sunyi di Kabupaten Bekasi, hidup seorang pria sederhana dengan hati yang luar biasa besar. Namanya Marsan Susanto. Ia bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan pula tenaga medis. Namun ia menjalankan tugas yang tak banyak orang sanggup lakukan merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), yang kerap dipinggirkan dan dilupakan masyarakat.

Jun 09 2025, 13:00

Bekasi,-


Hallo Pabrikers, di sebuah sudut sunyi di Kabupaten Bekasi, hidup seorang pria sederhana dengan hati yang luar biasa besar. Namanya Marsan Susanto. Ia bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan pula tenaga medis. Namun ia menjalankan tugas yang tak banyak orang sanggup lakukan merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), yang kerap dipinggirkan dan dilupakan masyarakat.

Marsan tidak pernah bercita-cita menjadi penyelamat bagi para ODGJ. Dulu, ia hanyalah seorang kusir delman. Tapi suatu hari di tahun 1992, takdirnya berubah. Saat sedang menarik delman, ia melihat seorang ODGJ di lahan kosong, memakan makanan dari plastik kotor, dikerubungi lalat. Pemandangan itu menghantuinya semalaman. Esoknya, tanpa ragu, ia membawa ODGJ itu pulang.

"Awalnya saya enggak terlalu peduli, tapi setelah saya lihat lagi, hati saya tergerak. Malam itu saya enggak bisa tidur. Akhirnya saya ambil keputusan, saya bawa dia pulang" kenangnya lirih.

Tiga bulan dirawat penuh kasih, ODGJ itu akhirnya mampu menyebutkan namanya, alamat, hingga nama orangtuanya. Marsan membiayai kepulangannya. Tiga hari kemudian, orangtuanya datang menangis, bersimpuh di hadapan Marsan. Ternyata mereka sudah mengira anaknya meninggal, bahkan sudah menggelar tahlilan. Anak itu hilang selama lima tahun. Saat itu, Marsan merasa hatinya pecah bukan karena sedih, tapi karena sebuah rasa cinta baru lahir di dalam dirinya, cinta kepada mereka yang tak dianggap manusia oleh banyak orang.

Sejak saat itu, ODGJ demi ODGJ ia rawat. Dari 1992 hingga 2005, jumlah ODGJ yang ia rawat mencapai hampir 10 orang. Ketika uang tak lagi cukup untuk makan dan obat, Marsan menjual kudanya satu-satunya alat mencari nafkahnya.

"Saya sempat di demo masyarakat juga. Ada ODGJ yang adzan di masjid jam 2 pagi, atau nyolong jemuran. Saya dimaki, disudutkan. Tapi saya tetap sayang mereka," ujar Marsan.

Istrinya pun sempat takut. Waktu itu anak-anak mereka masih menyusui. Tapi cinta Marsan menular. Istrinya kini turut merawat, mengerti, dan mencintai mereka yang dianggap 'gila' oleh banyak orang.

Pada 2014, Marsan didatangi wartawan dari Majalah BBC. Dari satu cerita kecil, dunia mulai mengenal perjuangannya. Media nasional datang. Bahkan ia diundang ke Kick Andy. Sejak saat itu, bantuan dari perusahaan mulai mengalir. Yayasan Al-Fajar Berseri, yang ia dirikan, pun mulai tumbuh.

Namun cobaan belum berhenti.

Saat ini, Marsan merawat lebih dari 400 ODGJ. Sebagian besar adalah pasien kiriman dari Dinas Sosial dan keluarga yang tak mampu lagi mengurus. Bantuan dari pemerintah? hanya cukup untuk satu bulan dari total pembiayaan selama tiga bulan. Tak ada perawat medis, tak ada dukungan kesehatan rutin. Bahkan ada ODGJ yang datang dalam kondisi stroke, atau kaki membusuk dipenuhi belatung.

"Saya bukan dokter. Tapi ketika lihat pasien seperti itu, saya yang buka perbannya sendiri. Ternyata penuh belatung. Saya telepon camat, datanglah beliau bersama kepala puskesmas, tapi hanya satu hari itu saja. Setelahnya? Tidak ada lagi," kata Marsan.

Ia tak menuntut banyak. Hanya ingin para ODGJ mendapat hak dasar sebagai manusia: makanan, obat, dan perawatan kesehatan. Beberapa keluarga yang menitipkan ODGJ ke yayasan bahkan menyumbang biaya sebagai bentuk subsidi silang, agar pasien lain tetap bisa dirawat.

Kini, Marsan bersyukur karena mulai dilirik perusahaan-perusahaan, khususnya lewat APINDO. Tapi baginya, ini baru langkah awal. "Banyak saudara kita yang sakit, baik fisik maupun mental. Saya mohon, kepada Bupati Bekasi, Gubernur Jawa Barat, tolong lihat kami di sini. Setiap tiga bulan pasti ada yang meninggal, yang dikarenakan kondisi kesehatan kurang baik" pintanya.

Marsan Susanto tak ingin jadi pahlawan. Ia hanya ingin menjadi manusia yang mengasihi sesamanya, terutama mereka yang tak punya siapa-siapa. Di matanya, tak ada ODGJ. Yang ia lihat hanyalah manusia yang sedang sakit dan butuh cinta. (RP)

Berita Terkait

No Posts Found