Ikapeksi Gelar Buka Puasa dan Santunan di Cikarang, Dorong Penguatan Alumni Magang Jepang
Ikatan Pengusaha Kenshusei Indonesia (IKAPEKSI) menggelar kegiatan berbuka puasa bersama, santunan, dan kajian Ramadan di Hotel Sahid Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (5/3/2026).
Halo Pabrikers, Ikatan Pengusaha Kenshusei Indonesia (Ikapeksi) menggelar kegiatan berbuka puasa bersama, santunan, dan kajian Ramadan di Hotel Sahid Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (5/3/2026). Kegiatan bertajuk “Ikapeksi Peduli untuk Berbagi 2026: Dari Alumni, Menebar Manfaat untuk Negeri” tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus berbagi kepada masyarakat.
Acara ini dihadiri para alumni program pemagangan Jepang yang tergabung dalam Ikapeksi, perwakilan pemerintah, serta sejumlah mitra lembaga pelatihan kerja dan dunia usaha. Selain buka puasa bersama, kegiatan juga diisi dengan santunan kepada anak-anak serta kajian keagamaan. Dalam kegiatan tersebut, Ikapeksi juga menghadirkan sekitar 100 santri yatim dan duafa yang menerima santunan.
Ketua Umum Ikapeksi, Pranyoto Widodo, dalam kesempatan tersebut menyinggung kontribusi tenaga kerja asing terhadap perekonomian Jepang, termasuk melalui pajak yang dibayarkan para pekerja.
“Itu dari tenaga kerja asing itu membayar pajak. Dengan adanya tenaga asing itu sangat-sangat membantu sekali untuk kelangsungan hidup negara Jepang. Kalau pajak sana berapa Pak? Kalau nggak salah sekitar 30 persenan ya. Tapi pajak itu ada yang kembali. Jadi pajak itu nggak semua notabene yang di pemerintah, tapi ada yang kembali juga.” ujar Pranyoto.
Ia juga menilai nasionalisme pekerja Indonesia di Jepang masih cukup tinggi. Menurutnya, hingga saat ini ia belum pernah mendengar adanya alumni program pemagangan yang mengganti kewarganegaraan menjadi warga negara Jepang, meskipun telah lama tinggal di negara tersebut.
“Jadi kalau yang ke Jepang itu, banyak yang mandiri. Selama ini, saya belum pernah dengar yang pindah negara. Mereka tetap komitmen, walaupun nikah dengan orang Jepang, walaupun hidup di Jepang udah bahkan ada yang 50 tahun lebih, tetap aja warga negara Indonesia. Saya sendiri belum pernah dengar yang paspor hijau pindah paspor merah. Merah kan paspor Jepang. Alhamdulillah, mudah-mudahan ya,” katanya.
Pranyoto menambahkan kuatnya ikatan komunitas warga Indonesia di Jepang turut menjaga semangat kebangsaan para pekerja migran. Ia menyebut berbagai kegiatan sosial dan keagamaan rutin dilakukan oleh komunitas Indonesia di Jepang.
“Karena di Jepang budaya ngumpulnya orang Indonesia masih kuat. Tentunya buka puasa bersama banyak, pengajian-pengajian melalui Jumat banyak. Dan sekarang sudah mulai banyak Masjid.” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Kementerian Ketenagakerjaan, Surya Lukita Warman, menyampaikan bahwa Ikapeksi memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan program pemagangan ke Jepang.
Menurutnya, organisasi yang beranggotakan alumni program pemagangan tersebut kini memiliki sekitar 30 ribu anggota yang dapat berkontribusi dalam pengembangan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha.
“Hubungan pertama gini ya, ini kan IKAPEKSI ini kan perkumpulan alumni magangnya. Alumni magang sekarang, Pak Ketum udah punya anggota sekitar 30 ribuan. Nah ini kan suatu potensi yang besar untuk kita kembangkan lagi program magang ini,” kata Surya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah terbuka untuk berkolaborasi dengan Ikapeksi dalam mengembangkan berbagai program yang dapat memberikan peluang kerja lebih luas bagi generasi muda Indonesia.
“Nah harapan kita sih dengan berkumpulnya teman-teman alumni ini, ini banyak program-program yang bisa kita inisiatif bersama. Nah tentunya, pertama inisiatifnya ya bisa dua pihak ya, bisa dari IKAPEKSI sendiri, bisa dari kami pemerintah,” ujarnya.
Surya juga menyebut pada tahun 2025 Indonesia mengirim sekitar 19 ribu peserta program pemagangan ke Jepang. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 50 ribu orang pada tahun 2026.
“Nah saat ini sendiri, kalau satu tahun ini, tahun 2025 lalu, sekitar yang magang itu diangka 19 ribuan kita kirim. Nah ini memang dari Pak Menteri kita maunya di tahun 2026 ini 50 ribu yang kita kirim,” katanya.
Ia menjelaskan kebutuhan tenaga kerja di Jepang masih sangat besar, bahkan mencapai sekitar 1,2 juta orang dari berbagai negara. Dari jumlah tersebut, Indonesia saat ini menempati urutan kelima sebagai negara pemasok tenaga kerja.
“Dari Jepang sendiri itu kebutuhannya sampai 1.200.000 orang. Dia butuh tenaga kerja. Itu dari berbagai negara. Nah untuk yang magang sendiri 400 ribu, 420 ribu dibutuhkan itu selama satu tahun ya hingga lima tahun,” jelasnya.
Surya mengakui salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah persaingan dengan negara lain, khususnya Vietnam, yang selama ini lebih agresif dalam mempromosikan tenaga kerjanya di Jepang.
“Kendalanya itu ya sekarang kompetitor kita kan Vietnam ya. Sekarang yang di Jepang sendiri itu yang paling banyak Vietnam itu di angka 600 ribu kurang lebih,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut perusahaan-perusahaan di Jepang saat ini mulai melirik tenaga kerja Indonesia karena dinilai memiliki karakter pekerja keras serta mudah beradaptasi.
“Alhamdulillahnya sekarang pemerintah Jepang dan perusahaan-perusahaan Jepang sekarang mau mengalihkan. Soalnya mereka lebih happy dengan Indonesia, baik itu magang maupun juga tenaga kerja Indonesia,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan lembaga pelatihan, Surya berharap jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Jepang dapat terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.