Strategi Pemasaran Mie Instant Melalui Program Sosial di Masa Pandemi
Situasi pandemic COVID-19 saat ini yang melanda seluruh dunia telah menyebabkan perubahan yang berdampak besar terhadap dunia usaha yang dengan demikian maka dapat dikatakan juga bahwa pola prilaku masyarakat sebagai konsumen ikut berubah akibat kondisi pandemic ini.
Oleh : Sri Karmini
Student MBA in Technology-President University
Situasi pandemic COVID-19 saat ini yang melanda seluruh dunia telah menyebabkan perubahan yang berdampak besar terhadap dunia usaha yang dengan demikian maka dapat dikatakan juga bahwa pola prilaku masyarakat sebagai konsumen ikut berubah akibat kondisi pandemic ini.
Dengan adanya kebijakan dari hampir seluruh negara untuk membatasi aktivitas dari masyarakatnya maka memberikan dampak perubahan juga terhadap pola cara konsumsi masyarakat, jika dahulu masyarakat bebas untuk melakukan wisata kuliner, membeli bahan makanan di luar rumah, maka di masa pandemic hal-hal tersebut menjadi dibatasi.
Bagi masyarakat yang terbiasa sehari-harinya dahulu membeli makanan atau bahkan makan di luar rumah, maka saat ini mereka banyak yang harus memenuhi kebutuhan makannya hanya dari rumah, memasak sendiri menjadi pilihan, tetapi terkadang karena keterbatasan waktu maka makanan instant menjadi pilihan utama disela-sela kesibukan WFH (work from home).
Di masa pandemic saat ini, rasa solidaritas untuk dapat saling membantu antar masyarakat juga menjadi semakin meningkat, aktivitas-aktivitas sosial seperti pemberian sembako menjadi hal yang rutin dilaksanakan oleh setiap golongan masyarakat dan dengan mempertimbangkan kemudahan mendapatkan product dan juga mengkonsumsinya maka mie instant menjadi salah satu product yang banyak dipilih untuk aktivitas ini.
Produsen mie instant melihat hal ini sebagai peluang mereka untuk lebih meningkatkan penjualan dan juga sarana untuk promosi ataupun brand awareness product-productnya agar eksistensi mereka di masyarakat dapat tetap terjaga bahkan meningkat.
Program-program sosial yang dilakukan masyarakat yang dipublikasi melalui media-media sosial tanpa disadari menjadi ajang iklan untuk product-product mie instant, sehingga saat ini kita dapat melihat promosi product-product mie instant banyak dilakukan di media sosial dan juga dukungan kepada akrivitas sosial masyarakat menjadi meningkat oleh perusahaan produsen mie instant, bahkan sudah menjadi hal lumrah para produsen tersebut menggaet para influencer di media-media sosial untuk mengadakan bakti sosial.
Sehingga dapat dikatakan jika dulu perusahaan-perusahaan produsen mie instant melakukan aktivitas sosial di atas adalah sebagai program donasi saja ke masyarakat seperti CSR, tetapi saat ini program tersebut selain donasi ke masyarakat, maka perusahaan juga mendapatkan efek positive dari aktivitas sosial tersebut dengan lebih cepat, sehingga dapat dikatakan bahwa saat ini perusahaan sudah mulai melakukan program Creating Shared Value (CSV) dimana melalui program tersebut baik masyarakat mapun perusahaan mendapatkan nilai positive.
Program CSR sebagai “investasi”perusahaan-perusahaan untuk jangka panjang mulai bergeser menjadi program CSV di masa-masa pandemic ini yang memberikan value lebih bagi kedua belah pihak, masyarakat maupun perusahaan sehingga dapat dikatakan bahwa masa pandemic ini jika disikapi dengan cermat makan akan dapat memberikan kebaikan baik bagi dunia industry ataupun masyarakat, selalu ada hikmah kebaikan dari setiap kejadian.
Sebagai informasi World Instant Noodles Association (WINA) mencatat sepanjang 2019, penduduk dunia mengonsumsi 106,42 miliar mie instan atau rata-rata 290 juta porsi per hari.
Sebanyak 15 negara penikmat mie instan terbanyak dunia, berasal dari Asia. China menempati urutan pertama daftar negara pelahap mie instan terbanyak pada 2019, dengan mengonsumsi 41,5 miliar bungkus.
Sementara itu, Indonesia di peringkat kedua dengan 12,5 miliar porsi, disusul India sebanyak 6,7 miliar porsi dan Jepang 5,6 miliar porsi. Jumlah ini diperkirakan meningkat selama masa pandemi COVID-19.
Khusus Indonesia, Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2018 menunjukkan bahwa mie instan telah diminati seluruh lapisan masyarakat dan makin tinggi tingkat pengeluaran di rumah tangga maka makin tinggi juga konsumsinya.(*)
Dari Redaksi
Anda juga dapat mengirimkan artikel opini anda mengenai industri, strategi bisnis, budaya dan lain-lain melalui email redaksi@jurnalkawasan.com