Loker : HRGA Staff đź“Ť Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

đź“© Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Menjaga Cahaya Sejak Dini: Refleksi dari Munaqosyah Tahfiz Tilawati

Ada pemandangan yang selalu menenangkan hati seorang pendidik: anak-anak yang duduk tenang, menunduk khusyuk, bibirnya bergerak pelan melantunkan ayat-ayat suci. Dalam kesederhanaan suasana itu, tersimpan proses panjang yang tidak mudah—tentang disiplin, kesabaran, dan cinta yang tumbuh perlahan.

Apr 14 2026, 23:55

Menjaga Cahaya Sejak Dini: Refleksi dari Munaqosyah Tahfiz Tilawati
Oleh: Agus Ratnaningrum, Guru SMP Al Muslim, Bekasi

Ada pemandangan yang selalu menenangkan hati seorang pendidik: anak-anak yang duduk tenang, menunduk khusyuk, bibirnya bergerak pelan melantunkan ayat-ayat suci. Dalam kesederhanaan suasana itu, tersimpan proses panjang yang tidak mudah—tentang disiplin, kesabaran, dan cinta yang tumbuh perlahan.

Itulah yang terasa dalam kegiatan Munaqosyah Tahfiz Tilawati Yayasan Al Muslim yang berlangsung pada 15–16 April 2026. Selama dua hari, para peserta didik mengikuti proses evaluasi hafalan dan kualitas bacaan Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan. Bukan sekadar ujian, kegiatan ini menjadi ruang pembuktian sekaligus penguatan—bahwa setiap ayat yang dihafal adalah perjalanan, bukan hasil instan.

Sebagai guru, saya melihat munaqosyah bukan hanya tentang seberapa banyak hafalan yang dimiliki siswa, tetapi tentang bagaimana mereka menjaga komitmen dalam proses tersebut. Menghafal Al-Qur’an bukan perkara mudah, terlebih di tengah kehidupan anak-anak yang juga dipenuhi dengan aktivitas belajar, bermain, dan distraksi teknologi.

Namun di situlah letak keistimewaannya. Ketika seorang anak mampu meluangkan waktu untuk menghafal, mengulang, dan memperbaiki bacaannya, sesungguhnya ia sedang belajar tentang konsistensi. Ia belajar bahwa sesuatu yang bernilai membutuhkan usaha yang terus-menerus.

Kegiatan munaqosyah juga menjadi momen refleksi, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru dan orang tua. Kita diingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, tetapi juga tentang kedekatan spiritual. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, kemampuan anak untuk tetap terhubung dengan Al-Qur’an adalah bekal yang sangat berharga.

Yang menarik, suasana kegiatan ini tidak terasa menegangkan, tetapi justru hangat dan mendukung. Para guru mendampingi dengan pendekatan yang menenangkan, memberikan ruang bagi siswa untuk tampil dengan percaya diri. Interaksi yang terbangun bukan sekadar penilaian, tetapi pembinaan.

Di balik setiap lantunan ayat, ada usaha yang mungkin tidak terlihat. Ada waktu yang dikorbankan, ada rasa lelah yang dilawan, dan ada semangat yang dijaga. Semua itu membentuk karakter yang kuat—karakter yang tidak mudah goyah.

Lebih dari itu, munaqosyah juga menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Ketika anak-anak terbiasa berinteraksi dengan ayat-ayat suci, bukan hanya hafalan yang terbentuk, tetapi juga kedekatan hati. Dan dari situlah nilai-nilai kebaikan akan lebih mudah tumbuh.

Di tengah tantangan zaman, di mana anak-anak begitu dekat dengan gawai dan dunia digital, kegiatan seperti ini menjadi penyeimbang yang sangat penting. Ia mengajak anak untuk kembali pada sumber nilai yang abadi, yang tidak lekang oleh waktu.

Sebagai pendidik, saya melihat bahwa kegiatan munaqosyah perlu terus dirawat dan dikembangkan. Bukan hanya sebagai agenda rutin, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan karakter siswa. Karena dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pegangan hidup yang kuat.

Harapannya, setiap ayat yang dihafal tidak berhenti di lisan, tetapi juga hidup dalam perilaku. Menjadi cahaya dalam langkah mereka, menjadi pengingat dalam setiap keputusan, dan menjadi bekal dalam perjalanan hidup ke depan.

Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik bukan hanya yang mengisi pikiran, tetapi juga yang menenangkan hati. Dan dalam lantunan Al-Qur’an itulah, kita menemukan keduanya.

Berita Terkait

No Posts Found