Loker : HRGA Staff 📍 Placement: Lamongan   Perempuan, dengan pengalaman minimal 1 tahun di bidang HRGA Pendidikan minimal D3/S1 Memahami dan mampu menerapkan kebijakan serta prosedur HRGA Memiliki pengetahuan yang baik tentang peraturan ketenagakerjaan

📩 Send your updated CV to:
murih.hermawan@japfa.com

Industri Manufaktur Bangkit di Tengah Resesi Global

Di tengah situasi global yang tidak stabil tersebut, perekonomian Indonesia terus tumbuh dan terkesan tertahan, termasuk industri manufaktur.

Mar 01 2024, 08:00

Cikarang,-

Hallo Pabrikers, Di tengah upaya untuk memulai kembali perekonomian global, dua perekonomian terbesar di dunia, Jepang dan Inggris, terperosok dalam  resesi. 

Selain itu, perkembangan geopolitik seperti ketegangan di Laut Merah akibat konflik Timur Tengah terus menghambat  pergerakan barang.

Pemilihan umum mendatang pada tahun 2024 di beberapa negara mitra utama Indonesia, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, India, dan Taiwan, juga akan berdampak pada tindakan bisnis terhadap india. Di tengah situasi global yang tidak stabil tersebut, perekonomian Indonesia terus tumbuh dan terkesan tertahan, termasuk  industri manufaktur.

Rata-rata laju pertumbuhan PDB industri manufaktur Indonesia mencapai 3,44% (2014-2022), lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan global dan OECD (data Bank Dunia), dengan kontribusi sebesar 19,9%.

Pada tahun 2021, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai $288 miliar (data UNStats), yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu kekuatan manufaktur dunia. Ekspor produk industri nonmigas menyumbang 72,24% ekspor Indonesia (2023).

Sebanyak 19,29 juta lapangan kerja (meningkat 23,5 persen dibandingkan tahun 2014) dan investasi di sektor industri sebesar Rp 3.031,85 triliun selama 10 tahun mendukung kuatnya pertumbuhan industri manufaktur bahkan di tengah resesi global saat ini.

Sementara itu, Purchasing Manager’s Index (PMI)  menunjukkan Indonesia mencatatkan ekspansi selama 29  bulan berturut-turut. Indeks Kepercayaan Industri juga menunjukkan tren serupa  sejak dirilis pada November 2022 hingga Februari 2024.

“Pada Februari 2024, Indeks Kepercayaan Industri (IKI)  mencapai 52,56, meningkat 0,21 poin dibandingkan Januari 2024,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendry Antoni Arif, Kamis (Februari) saat pengumuman Jakarta-Februari-IKI.

Febri menjelaskan, kenaikan IKI pada Februari  dipengaruhi oleh kenaikan nilai IKI pada 15 subsektor. Selain itu, pemilu yang digelar pada tahun 2024  juga menjadi faktor yang membuat ekspektasi para pejabat perekonomian terhadap perekonomian dalam negeri semakin optimis.

Faktor musiman menjelang Ramadhan dan Idul Fitri pada bulan depan juga mendukung tumbuhnya optimisme  pelaku industri, khususnya pada subsektor  makanan dan minuman, pakaian jadi, dan otomotif. “Oleh karena itu, kami perkirakan terjadi peningkatan IKI pada Maret 2024  dibandingkan Februari 2024,” imbuhnya.

Situasi umum kegiatan usaha pada bulan Februari 2024 lebih baik dibandingkan pada bulan Januari 2024. Hal ini dibuktikan dengan persentase responden yang menyatakan keadaan bisnisnya membaik meningkat  dari 30,1% menjadi 31,7%. Proporsi yang tetap stabil meningkat  dari 76,4% menjadi 76,8%.

Optimisme pemangku kepentingan perekonomian dalam enam bulan ke depan juga sangat positif, kembali meningkat dari 67,6% pada Januari 2024 menjadi 71,0% pada Februari. Pesimisme juga turun menjadi hanya 7,9% dari 10,6% pada bulan lalu.

Nilai tersebut merupakan pengakuan terbaik sejak IKI diterbitkan.

Jumlah subsektor industri yang menunjukkan ekspansi meningkat menjadi 17 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 87,91% pada triwulan IV tahun 2023. Industri minuman masih mencatatkan nilai atau ekspansi IKI tertinggi, disusul oleh industri kulit, subsektor  barang jadi dari kulit dan alas kaki, industri makanan, industri barang mineral bukan logam,  industri farmasi, kimia, dan obat  tradisional.

Dilihat dari variabel-variabel penyusun IKI, peningkatan nilai IKI disebabkan oleh peningkatan pada variabel persediaan produk (3,48 poin) dan pesanan baru (0,97 poin). Meskipun variabel produksi mengalami penurunan menjadi 50,45 (minus 3,23 poin), namun masih berada pada level ekspansi. Dari situasi ini, terlihat industri pengolahan nonmigas  masih menghabiskan setengah produksinya di bulan Februari.

Lebih lanjut Pak Febri menjelaskan, beberapa subsektor yaitu subsektor industri kulit, subsektor barang dari kulit, dan alas kaki mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan. Industri minuman, industri pengolahan tembakau, industri karet, produk karet dan plastik.

 industri makanan, industri hasil logam mentah; industri pakaian.

 Industri otomotif, trailer, industri farmasi, bahan kimia, obat  tradisional, dll. “Penurunan aktivitas manufaktur ini menyebabkan berkurangnya jumlah tenaga kerja industri,” jelas Febri.

Secara umum faktor utama yang menyebabkan pelaku ekonomi mengurangi produksi adalah berkurangnya pesanan,  ketersediaan produk, ketersediaan bahan baku/bahan penolong, dan faktor musiman. (*)




source kemenperin.go.id

Berita Terkait

No Posts Found